Remaja 17 Tahun Hamil dan Terinfeksi Kondiloma Akuminata, Telah Berpacaran Sejak SD

- 17 Juni 2024, 19:00 WIB
Remaja 17 Tahun Hamil dan Terinfeksi Kondiloma Akuminata, Telah Berpacaran Sejak SD
Remaja 17 Tahun Hamil dan Terinfeksi Kondiloma Akuminata, Telah Berpacaran Sejak SD /

DEMAK BICARA - Seorang remaja perempuan berusia 17 tahun kini menghadapi situasi yang sangat sulit setelah diketahui bahwa dirinya hamil dan terinfeksi kondiloma akuminata, yang juga dikenal sebagai kutil kelamin. Kasus ini menarik perhatian publik karena sang remaja telah berpacaran dengan pasangannya sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Kronologi Kejadian

Kasus ini mencuat ke permukaan setelah remaja tersebut, sebut saja Siti (bukan nama sebenarnya), memeriksakan diri ke sebuah klinik kesehatan karena merasa tidak nyaman di area genitalnya. Dokter yang memeriksanya, Dr. Amira, SpOg, menemukan adanya kutil kelamin, yang merupakan gejala dari infeksi human papillomavirus (HPV). Selanjutnya, tes kehamilan dilakukan dan hasilnya menunjukkan bahwa Siti juga sedang mengandung.

Menurut informasi dari keluarga, Siti telah berpacaran dengan seorang teman sebayanya sejak kelas 5 SD. Hubungan ini berlangsung selama bertahun-tahun tanpa pengawasan yang memadai dari orang tua maupun pihak sekolah.

Baca Juga: Kondiloma Akuminata: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Dampak dan Tantangan

Kondisi yang dialami Siti menimbulkan kekhawatiran tidak hanya bagi keluarganya tetapi juga masyarakat sekitar. Infeksi HPV yang menyebabkan kondiloma akuminata dapat menimbulkan risiko kesehatan serius jika tidak segera ditangani. Selain itu, kehamilan di usia muda menambah beban fisik dan psikologis bagi Siti yang masih dalam masa remaja.

Orang tua Siti mengaku sangat terpukul dan menyesali kurangnya pengawasan terhadap hubungan anak mereka. "Kami tidak pernah menduga hal ini akan terjadi. Kami pikir mereka hanya teman bermain," ungkap ibunya dengan penuh penyesalan.

Baca Juga: Herpes Zoster: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Tindakan Medis dan Permohonan Aborsi

Pihak klinik kesehatan segera memberikan pengobatan untuk mengatasi kutil kelamin yang dialami Siti. Perawatan melibatkan penggunaan obat topikal serta prosedur medis untuk menghilangkan kutil. Siti juga mendapatkan bimbingan dan dukungan psikologis untuk menghadapi kehamilannya.

Siti menyatakan keinginannya untuk melakukan aborsi karena merasa belum siap secara fisik dan mental untuk menjadi seorang ibu. Namun, aborsi di negara ini masih merupakan tindakan ilegal kecuali dalam kondisi tertentu yang diatur oleh hukum. Dr. Amira, SpOg, menekankan bahwa tindakan aborsi bisa dikenai sanksi pidana jika dilakukan di luar ketentuan hukum yang berlaku. "Kami harus mengikuti aturan hukum dan memastikan semua tindakan medis dilakukan sesuai prosedur yang benar," ujarnya.

Respon Masyarakat

Kasus ini memicu berbagai respon dari masyarakat. Banyak yang menyuarakan pentingnya pendidikan seks dan kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah. "Kami butuh kurikulum yang memberikan pengetahuan tentang bahaya penyakit menular seksual dan cara pencegahannya," kata Anita, seorang aktivis kesehatan.

Halaman:

Editor: Maya Atika


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah